Archives

I GOT A BOY

“Masih inget aku nggak?? 🙂 ”

Kira-kira begitu bunyi pesan yang kudapatkan di Facebook-ku, dengan sedikit aksen alay yang telah diterjemahkan ke bahasa normal. Pengirimnya Vikar, teman SMPku. Nama Facebook-nya pada saat itu Vickz Neko Ryuichi Itou (tuh kan…alay -__-“).

Semenjak lulus SMP aku nggak pernah ketemu dia. SMA-nya juga nggak satu sekolah sama aku. Jadi aku agak bertanya-tanya, buat apa makhluk dari masa lalu ini menghubungiku.

“Inget donk. Kenapa?” balasku.

Beberapa jam kemudian dia membalas lagi.

“Aku boleh minta nomer HP kamu nggak? Aku mau ngumpulin nomernya anak-anak SMP nih :)”

‘Ngumpulin nomernya anak-anak SMP.’ Yeah, sebuah alibi yang sempurna untuk pedekate. Aku yang innocent pun langsung memberikan nomor HPku padanya, dengan pikiran, ‘Oh, mungkin anak ini mau mengkoordinasi reuni atau sejenisnya.’

Setelah prosesi tukar-menukar nomor HP berakhir, maka sudah dapat ditebak apa yang akan terjadi selanjutnya. Yeah, SMSan. Kadang juga telpon-telponan. Dia juga jadi rajin ngomment-ngomment status Facebook-ku.

Tiap hari aku dibikin blushing oleh SMS-SMSnya yang memberiku perhatian setiap saat, setiap jam, bahkan setiap menit. Waktu itu aku masih maba (mahasiswa baru) dan lagi sibuk-sibuknya menjalani PK2 (Pengenalan Kehidupan Kampus). Ospek, adaptasi di lingkungan baru, teman-teman baru, semua itu jadi terasa ringan karena aku selalu terhibur oleh kehadirannya yang memperhatikanku setiap saat.

Hari demi hari, kami semakin dekat. Hingga pada suatu hari dalam obrolan di telepon…

“Aku Lebaran ntar pulang loh. Kita ketemuan yuk!”

Waktu itu memang dia berdomisili di Jakarta. Kuliahnya di UI, di jurusan yang sama denganku, Sistem Informasi.

“Mmm boleh,” jawabku.

“Oh iya, kamu kan Sistem Informasi juga ya, sama kayak aku. Ntar aku ajarin basic-basicnya deh.”

Well, dia emang lulusan salah satu SMK IT paling bagus di Malang. Akupun mengiyakan tawarannya. Lumayanlah les gratis, pikirku 🙂

~~

Hari yang dinanti pun akhirnya tiba. Waktu itu tahun 2010, di hari-hari pasca lebaran. Setelah silaturrahim ke rumahku, kami makan siang bersama di salah satu rumah makan.

Seperti yang telah dijanjikan, dia mengajariku beberapa konsep basic dari Sistem Informasi. Di situlah aku mulai diperkenalkan sama yang namanya tipe data dan teman-temannya. Semenjak saat itu aku sadar, he’s really smart!

Keesokan harinya, kami masih melanjutkan acara hang out (atau kencan ya?) ke beberapa tempat di Lumajang, termasuk mengunjungi salah seorang teman lama kami.

Hingga akhirnya tibalah waktuku untuk kembali ke Jember.

“Aku anterin kamu ke Jember ya?” tawarnya.

“Nggak usah, udah biasa naik bus sendirian kok.”

“Kalo gitu aku anterin ke terminal deh, gimana?”

Karena dia terus ‘memaksa’ untuk mengantarku, akhirnya aku minta ijin ke mama. Ternyata mama nggak mengijinkan aku untuk naek motor ke Jember.

”Lebih aman naek bus aja deh. Kamu kan capek, seharian habis main gitu,” kata mama. Ya udah deh akhirnya aku nurut. Vikar cuma nganterin aku sampe ke terminal.

Namun, di perjalanan menuju terminal…

“Aku anterin kamu sampe ke Jember deh ya?”

“Hah?” ujarku agak terkejut. Bukannya tadi perjanjiannya cuma nganter sampe terminal? “Tapi kan aku nggak dibolehin sa…”

“Aku temenin kamu naik bus.”

Pernyataan keduanya itu semakin membuatku tersentak.

Singkat cerita akhirnya kami naik bus berdua…

Selama di perjalanan aku nggak terlalu banyak ngomong. Aku lebih konsen sama musik yang nyantol di earphone di telingaku, dan sama badanku yang, sumpah capek banget…

“Kamu capek, ya?”

Ini cowok kayaknya bisa baca pikiranku deh.

“Iya.. Mmm, kamu nggak capek?’

“Nggak terlalu sih. Udah biasa jauh lebih capek daripada ini, pas kerja…”

Menit-menit berikutnya kami lebih banyak diam. Bus terus melaju kencang dan sesekali harus meliuk-liuk mengikuti bentuk jalan. Panas, pengap, hiruk-pikuk, semuanya menyatu dalam bus yang padat penumpang itu.

Aku sedang menikmati pemandangan di luar jendela ketika kurasakan sesuatu yang hangat menggenggam tanganku.

Tangannya!

“Udah kamu tidur aja. Aku jagain kok,” ujarnya sambil tersenyum.

Aku membalas senyumnya.

Hmmm kalo di drama Korea, pasti scene ini pake background music Someday-nya IU. Hihihihihii…

~~

“Nih, minumnya,” ujarku seraya menyerahkan sebuah teko berisi air putih lengkap dengan gelasnya.

Kami sedang duduk-duduk di teras kosannya kakakku. Waktu itu aku emang belum dapat kost, jadi mengampung sementara di kostnya kakakku yang kebetulan juga kuliah di Jember.

“Makasih, ya.”

Aku tersenyum. Vikar lalu menuangkan air ke dalam gelas dan meneguknya perlahan.

“Makasih ya, udah nemenin aku sampe ke Jember…”

“Iya, nyantai aja, nggak papa kok.”

“Kamu kapan balik ke Jakarta?”

“Lusa.”

Suasana hening sesaat.

“Bulan depan mungkin aku pulang lagi, ambil cuti gitu deh. Ntar kita ketemuan lagi ya :)”

“Oke :)”

Pembicaraan berlanjut dengan bercerita kehidupan kami masing-masing. Pekerjaan dan kuliahnya di Jakarta, juga prosesku sampai bisa kuliah di Jember. Tidak lupa sedikit mengenang masa-masa SMP dulu.

Dari situ aku mulai merasa nyaman sama Vikar. Dia orangnya asik, friendly, humoris, dan…smart.

“Ya udah aku pulang dulu ya, udah makin gelap nih,” ujarnya tak lama kemudian.

“Oh..oke.”

Kami beranjak dan berjalan beriringan ke halaman kost kakakku.

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Lalu kami berdiri berhadapan.

Once again, dia menggenggam tanganku!

“Kamu ati-ati ya di sini..”

“Eh? Mmm…oke…hehehehe,” jawabku agak canggung sambil melepaskan genggamannya.

Ini cowok ngapain sih pegang-pegang tanganku lagi? Mau bikin adegan romantis ala sinetron, gitu? Maghrib-mabhrib gini lagi! Kalo dilihat orang gimana? Kalo dilihat kakakku juga gimana?

Huft, ada-ada aja nih cowok.

~~

Hari-haripun berlalu. Aku menjalani rutinitasku sebagai mahasiswa baru. Hmm, nggak terasa aku sudah duduk di bangku kuliah sekarang. Aku juga sudah menetap di kost baruku. Lokasinya hanya berjeda dua rumah dari kost kakakku.

Dan tentu saja, aku semakin dekat dengan Vikar. Dia masih aktif kuliah sambil kerja di Jakarta. Meskipun kami jauh, tapi kami selalu melakukan komunikasi intens melalui SMS dan telepon. Beberapa waktu yang lalu kami juga sempat ketemuan lagi di Lumajang.

Semakin hari aku semakin merasa nyaman dengannya. Selain orangnya baik dan menyenangkan, aku juga suka caranya memperhatikanku.

Hingga pada suatu hari, sebuah SMS aneh dari Vikar mendarat di HPku.

“Iya, Vickz juga sayang sama Lia kok… 🙂 ”

Vickz? Bukannya itu username-nya Vikar di Facebook, ya?

Lia? Siapa itu Lia?

“Maksudnya?” balasku.

Seketika itu juga pikiranku langsung ke mana-mana. Ini jelas Vikar yang salah ngirim SMS ke aku, dan harusnya buat si…Lia. Mungkinkah Lia itu pacarnya Vikar? Tapi Vikar bilang dia nggak punya pacar? Apa dia bohong?

Tapi kekhawatiran dan kecurigaan itu nggak berlangsung lama. Buat apa aku curiga? Buat apa aku marah? Buat apa aku jealous? Vikar kan cuma temenku. Dan aku nggak ada rasa sayang ke dia. I just feeling comfortable with him, I don’t love him.

Beberapa jam kemudian, HPku berdering. Vikar.

“Assalamu’alaikum?”

“Wa’alaikumsalam. Eh Vi, itu…SMSku…sebenernya…temenku yang ngirimin, bukan aku. Jadi dia pinjem hapeku, trus dia ngebuka folder SMS yang udah lama-lama gitu. Eh, dia nggak sengaja ngirim salah satu SMS ke kamu….,” paparnya, panik.

Suasana hening beberapa detik.

“Oh, jadi itu temenmu yang salah ngirim SMS, bukan kamu?”

“Iya…bukan aku! Sumpah bukan aku! Kamu percaya kan? Kamu nggak marah kan?”

“Haha, iya…nggak papa kok. Sapa yang marah coba,” jawabku tenang.

“Beneran? Beneran kamu nggak marah?”

Setelah meyakinkannya bahwa aku nggak marah dan aku baik-baik saja akan hal ini, dia menjelaskan bahwa Lia itu adalah mantannya.

Ouw…

~~

Malamnya, Vikar menelepon lagi.

“Iya, ada apa?”

“Aku…aku habis kecelakaan.”

“HAH?! Kecelakaan?? Di mana?? Kok bisa sih?? Aduuhh…,” aku mendadak panik. Pantesan suaranya Vikar kayak lemes gitu, nggak bersemangat kayak biasanya. Ternyata dia habis kecelakaan. Tapi…kapan?? Di mana?? Kok bisa??

“Iya, jadi aku tadi tuh nggak konsen nyetirnya, Trus motorku nabrak…”

“Trus kamu luka-luka?? Parah nggak?? Ini kamu lagi di mana??”

“Ya…lumayan. Ini aku lagi di rumah sakit. Tulang kakiku retak, ini lagi di-gips…”

APPAAAHH??? Di-gips??

Langsung terbayang olehku sebuah balutan putih tebal yang sering muncul di sinetron kalo tokohnya lagi dirawat di rumah sakit.

“Kok sampe di-gips…?? Berarti…parah ya??”

“Engga kok, ngga papa. Kan aku udah dirawat di sini. Entar juga sembuh. Hehehe.”

Aduh, ni anak masih sempet-sempetnya ketawa lagi, dalam kondisi sakit kayak gitu.

Mataku mulai berkaca-kaca. Nggak tau kenapa rasanya aku khawatir banget sama temen lamaku ini. Ingin rasanya berada di sana untuk menemani dia. Nggak tega rasanya nyebayangin dia luka-luka gitu…

“Kamu…kenapa bisa nabrak sih?”

Dia terdiam sejenak, lalu jawabnya, “Aku kepikiran kamu.”

“HAH?! Ngapain kepikiran aku coba??”

Enggak enggak, maksudnya gini, kok kepikiran aku bikin kamu kecelakaan sih? Emang aku semacam pembawa sial gitu?

“Aku kepikiran masalah yang tadi…aku takut kamu marah. Aku…”

Ya ampun, anak ini…bener-bener dah!

“Aku takut kamu nggak percaya kalo yang ngirim SMS itu tuh bukan aku. Aku takut kamu jadinya ilfil sama aku, trus kamu nggak ngebolehin aku buat deket sama kamu lagi.”

“Vikaaaar…aku kan udah bilang kalo aku baik-baik aja, aku nggak marah! Nggak jealous! Aku bahkan udah ngelupain masalah yang tadi. Kamu kenapa sampe kepikiran banget gitu sih?? Jadinya kan malah kecelakaan gini…,” suaraku melemah karena tenggorokanku tercekat. Mataku memanas. Yeah, aku rasa aku mau nangis!

Tapi aku nggak boleh nangis sekarang, nggak boleh… Itu akan semakin membuatnya sedih dan kepikiran,dan…malu juga kali, nangis di depan cowok yang bukan siapa-siapa kita. Hehehe.

“Iya, aku minta maaf. Aku emang orangnya gini, pemikir banget. Kalo lagi punya masalah yang berat, yang bikin aku sedih, aku bakal mikirinnya terus-terusan. Sampe akhirnya…kecelakaan gini.”

Oh no! Air mataku jatuh! Tissu mana tissu…

“Maaf, ya…”

Aku masih sibuk menata nafas dan suaraku agar tidak terdengar bahwa sedang menangis.

“Iya…,” jawabku lirih.

Siapa sangka, seorang cowok bisa mengalami kecelakaan hanya gara-gara memendam perasaan bersalah yang amat besar. Dan orang yang membuatnya merasa seperti itu adalah aku!

Setelah itu kami mengobrolkan beberapa hal tentang kehidupan sehari-hari seperti biasanya. Suara Vikar sudah terdengar lebih bersemangat daripada awal menelepon tadi. Aku tak henti-henti menanyakan keadaannya, dan memberinya semangat agar cepat sembuh.

“Aku boleh nanya sesuatu ke kamu nggak?”

“Apa?”

Suasana hening sesaat.

“Would you be my girl?”

JEDIAAAAARRRR!!!! Mendengar kalimat barusan rasanya kayak disambar petir. DIA NEMBAK AKU!! Ya, benar, dia nembak aku!!

Aku speechless. Nggak tau mau ngomong apa. Bagaimana bisa, seseorang yang telah mengalami kecelakaan dan dirawat di rumah sakit karena luka-luka parah, NEMBAK GEBETANNYA?? Lewat telepon pula.

“Mmmmm…”

“Gimana?”

“Aku…aku…”

“Cuma jawab ya, atau nggak.”

Mampus deh guwehh!! Aku bener-bener nggak bisa menghindar dari situasi ini. Dia minta jawaban sekarang juga!

Lain halnya dengan kejadian beberapa minggu lalu, saat dia menembakku untuk pertama kalinya (iyaa…jadi ini ceritanya penembakan kedua, hehehehehehe). Waktu itu aku merasa belum terlalu mengenal dia, dan belum ada rasa apapun terhadapnya. Jadi, ”kita kan masih belom lama deket” adalah alibi yang sempurna untuk penolakan.

Tapi dia nggak nyerah sampai di situ, dia masih gencar ngedeketin aku. Dan puncaknya, malam ‘penembakan kedua’ ini.

Jujur, aku belum terlalu ada rasa ke dia. Cuma sekedar nyaman (kayak sofa aja, nyaman).

Tapi berhubung situasinya mendesak kayak gini, dan aku juga nggak mau kondisinya tambah parah lantaran aku tolak lagi, akhirnya…

“Yes, I would,” jawabku tenang namun tegas.

Seketika itu juga langsung berkumandang part reffrain Closer-nya Taeyeon sebagai background music kami saat itu. Hehehehehe…

“Makasih, ya… aku janji deh, bakal cepet sembuh buat kamu :),” jawab Vikar.

HEY WORLD! I HAVE A BOYFRIEND! I’M NOT A SINGLE WOMAN ANYMORE!

Ingin rasanya kuteriakkan kata-kata itu. Tapi berhubung udah malem dan aku nggak mau digebukin anak se-kosan gara-gara ribut sendiri, yah akhirnya aku pendam dalam hati saja.

Tiba-tiba background music berubah menjadi lagunya SNSD – I Got A Boy yang mewakili perasaanku saat itu 😀

I got a boy meotjin! I got a boy chakhan!

I got a boy handsome boy nae mam da gajyeogan

I got a boy meotjin! I got a boy chakhan!

I got a boy awesome boy wanjeon banhaenna bwa

~~

Yak, pemirsa…itu tadi cuplikan kisah proses jadianku sama sang pacar…hehehe. I hope you’ve enjoy it 🙂

Awalnya ragu memang, menjalani hubungan jarak jauh alias Long Distance Relationship. Aku di Jember sedangkan dia di Jakarta. APA BISA???

Ternyata setelah masa percobaan berakhir, aku lancar-lancar aja kok menjalani hubungan ini. LDR bukanlah monster menyeramkan seperti yang ada di kepala ababil-ababil masa kini 😀

Yeah, I GOT A BOY meotjin!!

 

Advertisements